Hasati Ontogeni


Setiap orang punya caranya tersendiri untuk bahagia, begitu pula aku. Setiap bangun pagi aku selalu memulai dengan menelpon dirinya. Mengetahui keberadaann dirinya masih ada dibumi ini membuatku tersenyum dan semangat dipagi hari. Setiap dering tersambung seolah menghidupkan seluruh bagian jiwaku yang semalam tertidur.

Pagi itu ia memang tak berkata banyak, hanya sapaan sederhana, ucapan selamat, kadang tawa kecil yang samar tapi bagiku itu lebih dari cukup. Aku benar memulai hariku dan menjalani semuanya dengan berbeda. Biasanya semua yang kujalani akan selesai pada hari itu juga tanpa ada kegiatan yang spesial disana. Berangkat – pulang – tidur. Rutinitas yang membosankan sudah berubah. Dia membuatku punya tempat cerita, bahkan hal kecil seperti…..

“Tadi siang aku mau beli mie ayam, pas udah sampai didepan warungnya ternyata aku gabawa uang”

Itu aku ceritakan padanya. Begitu pula sebaliknya kita sering berbagi aktivitas sehari hari kita, tentang bagaimana kita menjalani hari dan hal apa yang kita temui dihari itu. Senang mendengar suaranya, bahagia mendengar ceritanya, sempurna ketika bersamanya.

Seperti yang ku ungkapkan sebelumnya dia menjadi alasanku untuk bangkit dari diriku yang sebelumnya tenggelam. Menjadi sebuah tempat dimana kutuangkan semua rasa didalamnya. Dan sesosok yang membuatku menikmati kembali peluk rindu dan hangatnya cinta.

Walau kita berdua mungkin terhitung tak cukup lama bersama, aku sangat bahagia. Dan jika dunia mengizinkan aku bertemu dengan dia, akan kuucapkan terimakasih karena telah membangunkan sosok yang kelam ini. Aku mulai menjauh darinya disaat mulai adanya rasa ketidak pantasan bersama dirinya. Aku merasa dirinya bisa mendapatkan sosok yang lebih baik, lebih siap dengan segala kemampuan yang sudah dimiliki.

Mulai dari itu kita jarang berkomunikasi, frekuensi mulai menunjukan gelombang samar tak beraturan. Ketidak selarasan harmoni menyebabkan hancur semua nada yang sudah menjadi satu didalamnya. Akhirnya kami memutuskan untuk memaafkan satu sama lain. Memilih jalan masing masing, namun sebelum kata asing hadir aku pernah menanyakan ….

“Apakah setelah ini kita masih berteman?”

Dia menjawab “Tentu, aku tidak pernah melupakan orang yang aku kenal”

        Saat itu aku merasa lega karena aku pikir, tidak apapa mungkin cara pandang kita berbeda dan kita mungkin akan lebih baik menjadi teman saja. Terkadang memang kita merasa ada kecocokan, tetapi saat akan memulai hubungan ternyata kecocokan itu bukan untuk sebagai pasangan, melainkan hanya sebatas teman bicara, bertukar pikiran, dan lain sebagainya

Komentar

  1. Makasih bang udah nemenin galau aku disetiap cerita yang ditulis, rajin rajin ya bang rex nulisnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. wehhhh, terimakasih yaaaa
      btw untuk semuanyaaaa jangan galau galauu yaa adik adikk

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Samanvaya

Relationship???