Layaknya Lady Macbeth #2

Alarm
jam tanganku berbunyi, pertanda jam masuk kerja sudah mulai. Aku bergegas
kembali keruanganku dikarenakan aku harus mengunggah beberapa pekerjaan untuk
kunjungan dan aju banding dengan perusahaan lain. Hari ini aku pulang lebih
awal karena pekerjaanku selesai lebih cepat dari biasanya. Aku pergi ke mini
market yang biasa aku datangi untuk membeli eskrim kesukaanku untuk menemani
saat membaca buku. Aku membaca buku hingga senja tiba, tak kusangka selain
fenomena senja indah yang membuatku membatu, ternyata pada saat itu juga aku melihat
Chris dan Mila berboncengan begitu mesra dengan dagu yang menempel pada pundak.
Aku
ingin bertanya pada Chris, sebenarnya seberapa jauh dia mengenal Mila
Namun
aku mengurungkan itu, lagi pula aku tak mau ikut campur apalagi jika aku
menyinggungnya takut membuat hal tersebut jadi masalah yang serius. Lagipula
jika mereka memang betul dekat seharusnya mereka akan lebih semangat bekerja
dan saling supportif sehingga menciptakan lingkungan yang positif nantinya. Pada
kenyataannya aku salah, aku terlalu berfikir hal yang berlebih baik. Suatu hari
Mila menciptakan masalah di kantor, dan semua orang tau dia salah tetapi Chris
tiba-tiba membelanya. Dia bilang kami terlalu memojokannya dan terlalu
menghakimi kesalahan yang diperbuat oleh Mila.
“Chris
kau tak boleh terlalu terbutakan oleh cinta, sudah jelas Mila itu salah dan
semua orang tau itu” ucap Artha
Budi
pun menambahkan “Mila ini kerjanya ngapain si, aku satu divisi dengan dia,
seringnya lihat dia bertanya mulu seperti tidak tahu sebenarnya jobdesknya apa.
Dia tuh lalalolo banget loh”
Disitu
sebenarnya aku ingin tertawa mendengar Bahasa budi yang mungkin sedikit tidak
formal dikantor, tapi aku tidak bisa suasana begitu cukup tegang
Semua
orang kesal, baik dari divisiku, divisi Mila, dan juga divisi utama. Aku tak
pernah membayangkan hal seperti ini akan terjadi, dan jujur disitu aku sedikit
ragu untuk menengahi ketegangan yang sedang berlangsung. Apalagi setelah ada
kalimat yang keluar dari mulut Hanum.
“Pekerjaan
di divisi kita sedikit terhambat dengan kejadian ini, seharusnya sihhh ada
perkembangan dan perbaikan” Hanum dengan sontak mengucapkan
Entah
karena sudah muak dengan kondisi ini atau karena emosi, mulutku secara tak
sadar pun berucap
“Sudah
lah cukup untuk perdebatan kali ini, mereka yang berakal pasti akan berubah
jika melakukan sebuah kesalahan dan menerima dengan baik masukan yang ada”
Saat
itu jujur aku sangat tidak enak hati mengeluarkan kata-kata tersebut dari
mulutku, tapi tak apa aku rasa aku selama ini terlalu banyak diam untuk keadaan
kantor tempat kerjaku. Daripada kedepannya kemalangan datang ditempat kerja
malah membuatku tidak nyaman, aku harus memutus rantai yang akan
menghantarkannya.
Selain
itu ternyata Chris menyimpan dendam padaku karena ia merasa pada saat itu aku
menghina Mila. Apalagi dia sudah begitu kecintaan (dibutakan oleh cinta) kepada
Mila. Mau bagaimana kesalahan yang jelas sangat terlihat dia selalu membelanya.
Banyak dalih yang dilakukan Chris seperti “Mungkin dia masih baru dan dia belum
tau apa yang harus dikerjakannya” tapi dalih yang ia pakai selalu dipatahkan
oleh Artha “Baru pun sebelum dia kerja dia ada interview dan ada pelatihan
terlebih dahulu”.
Irene
menenangkan suasana yang makin memanas itu berharap tidak ada pertikaian yang
terjadi antara Artha dan Chris. Tempat kerjaku semakin runyam dengan kedatangan
wanita itu, suasana yang dulu terlihat lebih sedikit memiliki harmoni semakin
menjadi berkubu. Memang dari awal seharusnya tidak diperbolehkan untuk menjalin
asmara dalam satu perusahaan apalagi satu gedung tempat kerja.
si kontol akhirnya muncul, akun ilang, semua ilang gabisa dicari dimana mana
BalasHapus