Wangun Madyantara #Cerita

Hari
mulai gelap, bulan mulai berdiri menggantikan sang mentari, diikuti dengan bintang
yang mulai berdatangan hadir disini. Anak-anak berlarian masuk ke rumah karena
dipanggil orang tuanya. Orang dewasa sudah pulang dari tempat kerja mereka.
Sedang aku disini masih melamun diiringi dengan irama duka.
Aku
duduk di tengah-tengah heran, diselimuti rasa penasaran, diterpa oleh
kencangnya angin prasangka yang menyebabkan luka.
Sedikit
kilas balik saja. Awalnya kita bangun semua dengan rasa saling percaya,
mengumpulkan banyak material agar menciptakan bangunan yang kokoh. Lewati juang,
senang, sedih agar semuanya bisa berdiri tegak sesuai kemauan bersama. Tapi entah
mengapa malah seperti ini jadinya. Aku dirundung oleh ribuan kata tanya
terpojok hingga ujung sebuah nestapa.
Malam
itu aku menyeduh secangkir kopi. Lamunan yang membuatku tak ingat waktu kini
telah menunjukan dini hari. Rasa kantuk seolah tak menyerangku saat ini,
mungkin dikarenakan banyak hal yang ingin kusampaikan, kutanyakan, dan bahkan
ku pertanggung jawabkan. Ingin juga rasanya ku teriakan semua isi kepala seraya
berbagi kepada semesta.
Namun…
pada akhirnya diam adalah sebuah ketenangan yang harus ditanamkan.
Keesokan
harinya kawan-kawanku pun datang menanyakan, bagaimana bisa bangunan yang sudah
ada cukup lama dan dibangun sedemikian rupa bisa hancur tanpa diterpa sebuah
bencana. Terlalu naif diriku tuk menjawab bahwa aku tidak tahu apa-apa.
Mau
bagaimana lagi, aku benar benar buta. Semua terjadi begitu saja. Ingin sekali
ku katakan kepada mereka “Mengapa kau menanyaiku? Kenapa kalian tidak bertanya
kepada dia saja, aku pun ingin tau ini semua terjadi karena apa”
Karena
setiap pertanyaan yang aku berikan tak pernah ia beri penjelasan
Beberapa
hari setelah kejadian itu sudah ku lewati, lenyap hilang tanpa jejak hingga
kabar tentang dirinya tak pernah ku dengar lagi. Pesan yang biasa timbul di sebuah
notifikasi tak pernah muncul adanya, dering telfon pun tak pernah bergema
seakan tenggelam dibawah samudra.
Jika
kau tanya kondisi ku saat ini, aku baik-baik saja. Bahkan setelah ku dengar
kabar ia telah mendeklarasikan bahwa hancurnya sebuah bangunan hanya menjadi
sebuah kenang. Tak pernah bisa diperbaiki ataupun dibangun kembali, biarkan
hanya menjadi sebuah peninggalan layaknya prasasti.
Begitulah, tak ku hiraukan kepada siapa, sampai mana, dan mau bagaimana ceritanya yang dia deklarasikan selama tidak berpengaruh pada diriku, aku biasa-biasa saja. Lagi pula aku sudah mulai membereskan, membersihkan dan merapikan semua bongkahan dan serpihan sisa bangunan yang telah hancur agar tidak menggores dan melukai orang lain yang akan datang.
galau ya bang rex?
BalasHapushii, engga kok amannn
HapusBtw, terimakasih sudah membacaa yaaaaa
Ini penjelasan dari yang sebelumnya?
BalasHapusbisa dibilang gitu sii, mungkin kedepannya bakal ada yang gini lagi sii
Hapusdoakann sajaa yaa